image
Tampilkan postingan dengan label nasehat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nasehat. Tampilkan semua postingan

Sikap Seorang Muslim Kepada Penguasa Yang Zhalim

Alhamdulillah, Rasulullah SAW telah meninggalkan kepada kita Agama Islam yang sempurna. Tidak ada suatu perkara yang penting pun yang terlewati dari agama ini. Barangsiapa tetap berpegang teguh kepada agama ini setelah sampai hujjah kepadanya maka dia adalah termasuk orang yang selamat, Insyaa Allah. Dan barangsiapa yang berpaling setelah sampai keterangan dari perkara agama ini maka dia akan binasa. Semoga Allah SWT menggolongkan kita kepada orang yang tetap mendengar dan taat dari setiap perintah-perintah yang telah disampaikan oleh-Nya lewat lisan Rasul-Nya SAW. Aamiin.
A. Sikap Seorang Muslim Kepada Penguasa Yang Zhalim, Mendengar dan Taat.
1. Dari Wail bin Hujr, berkata : Kami bertanya :
Wahai Rasulullah ! Bagaimana pendapatmu jika kami punya amir (dimana mereka) menahan hak kami dan mereka meminta haknya dari kami ? Maka beliau menjawab : (Hendaknya kalian) dengar dan taati mereka, karena hanyalah atas mereka apa yang mereka perbuat, dan atas kalian yang kalian perbuat. (HR. Muslim no. 1846 dari hadits Asyats bin Qais)
2. Dari Hudzaifah bin Yaman berkata : Rasulullah SAW bersabda :
Akan ada sepeninggalku nanti para pemimpin yang tidak mengambil petunjukku, dan tidak mengambil sunnah dengan sunnahku. Akan muncul (pula) ditengah-tengah kalian orang-orang (dikalangan penguasa) yang hatinya adalah hati syaithan dalam wujud manusia. Aku (Hudzaifah) bertanya : Apa yang harus saya perbuat jika aku mendapatinya? Beliau bersabda : (Hendaknya) kalian mendengar dan taat kepada amir, meskipun dia memukul punggungmu dan merampas hartamu. (Hadits shahih riwayat Muslim dalam Shahihnya no. 1847 (52))
3. Dari Adi bin Hathim ra. berkata : Kami bertanya :Ya Rasulullah, kami tidak bertanya kepadamu tentang (ketaatan) kepada (amir) yang bertaqwa, akan tetapi bagaimana yang berbuat (demikian) dan berbuat (demikian) (Adi bin Hathim menyebutkan perbuatan yang jelek) ? Maka Rasulullah SAW bersabda : Bertaqwalah kepada Allah dan (tetaplah) mendengar dan taat (kepada mereka). (HR. Ibnu Abi Ashim dan dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam Ad-Dhilal hal 493 no. 1069)
4. Dari Abu Hurairah ra. dia berkata, Rasulullah SAW bersabda : Wajib bagi kamu mendengar dan taat baik dalam keadaan sulit ataupun mudah, semangat ataupun tidak suka, walaupun ia sewenang-wenang terhadapmu. (HR. Muslim)
B. Mendengar & taat dalam perkara yang maruf, bukan dalam perkara maksiat.
 Dari Ibnu Umar ra. berkata : Rasulullah SAW bersabda :
Wajib atas seorang muslim (untuk) mendengar dan taat (kepada pemimpin) pada apa yang ia sukai ataupun yang ia benci, kecuali kalau ia diperintah (untuk) berbuat maksiat, maka tidak ada mendengar dan taat. (HR. Bukhari dan Muslim)
C. Larangan Menghina (Menjelek-Jelekkan) Penguasa & Perintah Memuliakannya Walau Zhalim Sekalipun
1. Dari Muawiyah berkata : Tatkala Abu Dzar keluar ke Ribdzah, dia ditemui sekelompok orang dari Irak, kemudian mereka berkata : Wahai Abu Dzar, pancangkanlah bendera (perang) untuk kami, niscaya akan datang orang-orang yang membelamu. (Maka) Abu Dzar berkata : Pelan-pelan (bersabarlah) wahai Ahlul Islam, sesungguhnya aku mendengar Rasulullah SAW bersabda :
Akan ada sepeninggalku seorang sulthan (pemimpin), muliakanlah dia, maka barangsiapa mencari-cari kehinaannya, berarti dia telah melubangi Islam dengan satu celah dan tidak akan diterima taubatnya sampai dia mampu mengembalikannya seperti semula. (Hadits Shahih riwayat Ahmad, Ibnu Abi Ashim dan dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam Ad-Dhilal)
2. Dari Abi Bakrah ra. berkata : Rasulullah SAW bersabda :
Sulthan adalah naungan Allah dimuka bumi, barangsiapa menghinanya, maka Allah akan menghinakan dia (orang yang menghina sulthan), dan barangsiapa memuliakannya, niscaya Allah akan memuliakan dia. (Hadits shahih riwayat Ibnu AbiAshim, Ahmad, At-Thoyalisi, Tirmidzi dan Ibnu Hibban. Dihasankan Syaikh Al-Albani dalam Ad-Dhilal no. 1017 dan 1023, dan dalam As-Shahihah 2297)
3. Dari Ziyad bin Kusaib Al-Adawi beliau berkata : Dulu aku pernah bersama Abi Bakrah berada dibawah mimbar Ibnu Amir dan beliau sedang berkhutbah sambil mengenakan pakaian tipis. Kemudian Abu Bilal berkata : Lihatlah oleh kalian pada pemimpin kita, dia mengenakan baju orang-orang fasiq. Lantas Abi Bakrah pun langsung angkat bicara : Diam kamu! Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda :
Barangsiapa yang menghinakan penguasa Allah di muka bumi niscaya Allah menghinakannya. (Tirmidzi dalam sunannya (2225))
4. Didalam At-Tarikh AL-Kabir (7/1 oleh AL-Bukhari dari Aun As-Sahmy beliau berkata : Janganlah kalian mencela Al-Hajjaj (Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi) karena dia adalah pemimpin kalian dan dia bukan pemimpinku. Adapun ucapan beliau :dia bukan pemimpinku, karena Abu Umamah tinggal di Syam sedangkan Al-Hajjaj pemimpin Iraq.
5. Dikitab yang sama (8/104) Imam Bukhari meriwayatkan dari Abi Jamrah Ad-DhobiI, beliau berkata : Tatkala sampai kepadaku (khabar) pembakaran rumah, lalu aku keluar menuju Makkah dan berkali-kali aku mendatangi Ibnu Abbas sampai beliau mengenaliku dan senang kepadaku. Lalu aku mencela Al-Hajjaj di depan Ibnu Abbas sampai beliau berkata : Janganlah kamu menjadi penolong bagi syaithan.
6. Hannad mengeluarkan (riwayat) dalam Az-Zuhd (II/464) :Abdah menceritakan kepada kami dari Az-Zibriqan, berkata,Aku pernah berada disisi Abu Wail Syaqiq bin Salamah lalu au mulai mencela Al-Hajjaj dan au sebutkan kejelekan-kejelekannya. Lantas beliau berkata,Janganlah engkau mencercanya, siapa tahu barangkali dia berdoa, Ya Allah, ampunilah aku, kemudian Alla mengampuninya.
7. Dari Ibnu Abi Dunya mengeluarkan dalam kitab Ash-Shamtu wa Adabu Lisan hal 145 dan juga Abu Nuaim dalam Al-Hilyah (5/41-42) dari Zaid bin Qudamah beliau berkata : Saya berkata kepada Manshur bin Al-Mutamar:
Jika aku puasa apakah aku boleh mencela sulthan (penguasa/pemimpin)? Beliau berkata : Tidak boleh. Lalu aku terus bertanya apakah aku boleh mencela Ahli Ahwa (para pengekor hawa nafsu/Ahlul Bidah) ? Beliau menjawab : YA! (boleh).
8. Ibnu Abdil Barr telah mengeluarkan dalam At-Tamhiid (XXI/287) dengan sanadnya dari Abu Darda ra. bahwa ia berkata, Sesungguhnya awal terjadinya kemunafikan pada diri seseorang adalah cacimakiannya terhadap pimpinan/pemerintahnya.
9. Ibnu Ab Syaibah rahimahullahu taala berkata dalam Al-Mushannaf XV/75 & II/137-138 : Ibnu Uyainah menceritakan kepada kami dari Ibrahim bin Maisarah dari Thawus, berkata, Pernah disebutkan (nama-nama) para pemimpin negara dihadapan Ibnu Abbas, lalu seseorang sangat bersemangat mencacimaki kehormatan mereka. Lalu dia lakukan demikian sambil meninggi-ninggikan (badannya), sampai-sampai dirumah itu aku tida melihat orang yang lebih tinggi daripadanya. Kemudian aku mendengar Ibnu Abbas ra. berkata,Janganlah engkau jadikan dirimu sebagai fitnah (pemicu kekacauan) bagi orang-orang yang zhalim. Maka serta merta orang tersebut merendahkan tubuhnya sampai-sampai dirumah tersebut aku tida melihat orang yang lebih rendah / merendahkan tubuhnya daripadanya.
D. Tidak Boleh Memberontak Selama Penguasanya Tidak Kafir atau Masih Menegakkan Shalat
1. Dari Ummu Salamah r.a. berkata, Rasulullah SAW bersabda :
Akan ada sepeninggalku nanti pemimpin (yang) kalian mengenalnya dan mengingkari (kejelekannya), maka barangsiapa mengingkarinya (berarti) dia telah berlepas diri, dan barangsiapa membencinya (berarti) dia telah selamat, akan tetapi barangsiapa yang meridhoinya (akan) mengikutinya. Mereka para sahabat bertanya : Apakah tidak kita perangi (saja) dengan pedang ? Beliau menjawab : Jangan, selama mereka masih menegakkan shalat ditengah-tengah kalian. (HR. Muslim 6/23)
2. Dari Said Al-Khudri beliau berkata : Bersabda Rasulullah SAW :
Akan ada nanti para penguasa yang kulit-kulit kalian menjadi lembut terhadap mereka dan hati-hati pun menjadi tenang kepada mereka. Kemudian akan ada para penguasa yang hati-hati (manusia) akan menjadi benci kepada mereka dan kulit-kulit pun akan merinding ketakutan terhadap mereka. Kemudian ada seorang lelaki bertanya : Wahai Rasulullah, tidakah kita perangi saja mereka ? Beliau bersabda : Jangan, selama mereka masih menegakkan shalat ditengah-tengah kalian. (As-Sunna Ibnu Abi Ashim hal. 49
3. Dari Ubadah bin As-Shamit ra., beliau menceritakan :
Kami membaiat Rasulullah SAW untuk mendengar dan taat (kepada pemerintah muslimin) dalam keadaan kami senang atau benci kepadanya, dalam keadaan kesulitan atau kemudahan, dan dalam keadaan kami dirugikan olehnya, dan tida boleh kita memberontak kepada pemerintah. Kemudian beliau SAW bersabda : Kecuali kalau kalian melihat kekafiran yang nyata dan kalian mempunyai bukti dari Allah pada perbuatan pemerintah tersebut. (HR. Bukhari dan Muslim)
E. Tercelanya melakukan tanzhim rahasia (Gerakan bawah tanah)
 Dari Ibnu Umar ra. berkata : Seseorang datang kepada Rasulullah SAW lalu bertanya : Wahai Arsulullah, berwasiatlah kepada kami. Maka Rasulullah SAW bersabda : Dengarlah, taatlah, wajib bagi kalian dengan (sikap) terang-terangan (terbuka), dan hati-hatilah kalian dari (rencana) rahasia. (Hadits shahih riwayat Ibnu Abi Ashim dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ad-Dhilal)
F. Perintah untuk bersabar menghadapi pemimpin yang zhalim
1. Dari Anas berkata : Rasulullah SAW bersabda :
Sepeninggalku nanti kalian akan menemui atsarah (pemerintah yang tidak menunaikan haq rakyatnya-ed) maka bersabarlah sampai kalian menemuiku. (HR. Bukhari dan Muslim)
2. Dari Anas bin Malik berkata : Para pembesar kami dari kalangan sahabat Muhammad SAW melarang kami. Mereka berkata : Rasulullah SAW bersabda :
Janganlah kalian mencela pemimpin-pemimpin kalian, janganlah kalian dengki kepada mereka dan janganlah kalian membenci mereka, (akan tetapi) bertaqwalah kepada Allah dan bersabarlah, sesungguhnya perkaranya (adalah) dekat. (Hadits shahih riwayat Ibnu Abi Ashim dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ad-Dhilal, hal 474 no. 1015)
3. Dari Abdullah bin Abbas ra. bahwa Nabi SAW bersabda :
Barangsiapa melihat sesuatu yang ia benci ada pada pemimpinnya maka hendaklah ia bersabar, karena barangsiapa melepaskan diri dari Al-Jamaah meskipun sejengkal maka ia mati dalam keadaan jahiliyyah. (HR. Bukhari dan Muslim)
4. Dalam riwayat Muslim :
Barangsiapa membenci sesuatu dari pemimpinnya (pemerintah) maka hendaklah ia bersabar. Karena tida ada seorang manusiapun yang keluar dari (kekuasaan) penguasa meskipun sejengkal lalu dia mati dalam keadaan demikian, melainkan matinya tak lain dalam keadaan mati jahiliyyah.
G. Buah Dari Mengikuti Sunnah
 Dari Abul Yaman Al-Hauzani dari Abu Darda ra. beliau berkata : Hati-hati kalian, jangan kalian melaknat para penguasa. Sebab, sesungguhnya melaknat mereka adalah kemelut dan kebencian terhadap mereka adalah kemandulan yang tidak mendatangkan buah apa-apa. Ada yang menyatakan,Ya Abu Darda, lantas bagaimana kami berbuat jika kami melihat apa yang tidak kami sukai ada pada mereka ? Beliau menjawab,Bersabarlah! Sesungguhnya Allah bila melihat perkara itu ada pada mereka maka Dia akan mencegahnya dari kalian dengan kematiannya. (HR. Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunnah (II/48
H. Cara Menasehati Penguasa
1. Dari Iyadh bin Ghanim berkata : Bersabda Rasulullah SAW :
Barangsiapa berkeinginan menasehati sulthan (penguasa), maka janganlah melakukannya dengan terang-terangan (di depan umum) dan hendaknya dia mengambil tangannya (dengan empat mata dan tersembunyi). Jika dia mau medengar (nasehat tersebut) itulah yang dimaksud, dan jika tidak (mau mendengar), maka dia telah menunaikan kewajiban atasnya. (Hadits Shahih riwayat Ahmad, Ibnu Abi Ashim, Al-Hakim, Al-Baihaqi dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ad-Dhilal hal. 507 no. 1096)
2. Dari Ubaidillah bin Al-Khiyar berkata : Aku pernah mendatangi Usamah bin Zaid, kemudian saya katakan kepadanya : Tidakkah kau nasehati Utsman bin Affan agar menegakkan had (hukuman) atas Al-Walid ? Usamah berkata : Apakah kau kira aku tidak mau menasehatinya kecuali dihadapanmu ?! Demi Allah, aku telah menasehatinya antara aku dan dia saja. Aku tidak mau membuka pintu kejelekan kemudian aku menjadi orang pertama yang membukanya. (Atsar shahih riwayat Bukhari dan Muslim)
Wallahu A’lam Bish-Shawab.

assunnahsurabaya.wordpress.com

Read More..

Kiat-Kiat Praktis Menahan Pandangan ^_*




Abu Muhammad Sahl bin Abdulloh At-Tastari berkata: “Perbuatan-perbuatan yang baik mampu dikerjakan oleh orang yang sholih dan orang yang fajir, tapi tidak akan sanggup meninggalkan perbuatan-perbuatan maksiat kecuali orang yang shiddiq (benar keimanannya).”

Dengan menghindari memandang yang harom, anda berusaha menggapai kedudukan shiddiqiyah , adapun peran saya adalah memudahkan anda menyusuri jalan untuk menggapainya dengan menyebutkan hal-hal berikut:

1. Bandingkan!

Abu Ishmah rohimahulloh berkata: “Aku pernah bersama Dzun Nun, sedangkan dihadapannya duduk seorang pemuda tampan. Dzun Nun mengajarinya. Lantas lewatlah seorang wanita cantik lagi sopan.

Pemuda tersebut mencoba mencuri pandangan kepadanya. Dzun Nun sadar, lalu memalingkan kepala si pemuda itu dan berkata:
Tinggalkanlah wanita yang dibentuk dari tanah dan air.
Dan berangan-anganlah bersanding dengan bidadari suci.
Barangsiapa yang hari ini gemar memperhatikan wanita-wanita jelita, hendaklah ia membandingkan mereka dengan para bidadari. Agar tahu perbedaan antara wanita-wanita itu dengan para bidadari.

Bidadari surga, bagaimanakah bidadari surga itu? Bila ia menampakkan diri, maka cahaya matahari mengalir dari paras ayu wajahnya. Bila tersenyum, maka kilat bersinar dari gigi-gigi putihnya. Andaikata ia muncul di dunia, maka bau harumnya memenuhi ruangan antara langit dan bumi, membuka mulut-mulut makhluk untuk mengucapkan tahlil, takbir dan tasbih. Seluruh timur dan barat bersolek menyambutnya. Tak satu matapun lelah melihatnya. Cahaya matahari tertutupi, sebagaimana matahari menutupi cahaya bintang. Dan seluruh makhluk yang ada di jagad raya ini pasti beriman kepada Alloh Yanng Maha Hidup Kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya. Kerudung yang menyembunyikan kecantikannya itu lebih berharga dibanding dunia seiisinya, lantas bagaimana dengan kecantikan itu sendiri? Dagingnya memancarkan sinar dalam balutan 70 lembar kain sutra, lantas bagaimana dengan cahayanya? Andaikata Alloh Ta�ala tidak menetapkan penduduk surga itu tidak mati, pastilah mereka mati karena terkagum-kagum pesona kecantikannya. Pernahkah engkau membayangkan seorang wanita yang apabila tertawa di hadapan suaminya, maka surga berkilauan gemerlap cahaya karena tertawanya? Dan apabila ia pindah dari satu istana ke istana lain, engkau mengatakan: “Matahari ini (Bidadari) berpindah dari gugusan orbitnya”. Sungguh semua keindahan ini nyata, namun engkau masih terpedaya oleh bangkai?!

Wahai orang yang telah mendatangi transaksi menahan pandangan! Ada dua pandangan yang tidak bisa bersatu; barangsiapa menahan pandangannya dari wanita di dunia, Ia pasti melepaskan pandangan untuk menikmati bidadari di akhirat. Dan barangsiapa mengumbar pandangan di dunia, maka ia tidak mendapat pandangan di akhirat. Silahkan memilih! Bila anda mau, maka berikanlah mahar seperti yang telah ditunjukkan Abu Darda’, ia berkata: “Siapa yang menahan matanya dari memandang yang harom, maka ia akan dipersandingkan dengan bidadari yang di cintai.” (lihat Risalah Mustarsyidin: 119).

2. Susuri jalan mereka!

Hiruplah semerbak wewangian kehidupan kaum salaf. Puaskan dahagamu dengan menelan siroh (pejalanan) mereka. Hidupkanlah hatimu dengan mengingat mereka. Tiru dan samailah mereka. Mungkin anda akan sanggup menyamai bentuk yang sebenarnya.

Dahulu Robi� bin Khutsaim rohimahulloh – seorang murid Abdulloh bin Mas�ud rodhiyallohu’anhu yang paling cemerlang- selalu menahan pandangannya. Suatu kali, serombongan wanita melewatinya, ia merunduk sehingga para wanita tersebut mengiranya buta. Sehingga mereka berlindung kepada Alloh Ta�ala dari kebutaan.

Manakala Daud bin Abdillah diburu sebagian pemimpin Basroh, ia bersembunyi dirumah salah seorang sahabatnya, lalu ditempatkan dirumahnya. Shahabat itu memiliki isteri bernama Zarqo’, ia seorang wanita yanng cantik. Suatu ketika si shahabat pergi untuk menyelesaikan suatu keperluan dan berpesan kepada isterinya agar bersikap santun serta menjamu dengan baik Daud. Ketika tiba dirumah, ia berkata: ‘Bagaimana engkau melihat Zarqo? Daud balik bertanya: ‘Siapa Zarqo’ itu? Ia menjawab: ‘Ia ibu rumah tangga ini? Daud menjawab: ‘Saya tidak tahu, apakah ia Zarqo’ (sibiru) atau Kahla’ (si wanita bermata hitam).’

Ketika shahabatnya bertemu Zarqo’ ia berkata kepadanya: “Aku berpesan agar engkau bersikap sopan kepadanya dan melayaninya, tapi engkau tidak melakukan. Ia menjawab: ‘Engkau telah berpesan kepadaku bersikap sopan terhadap lelaki yang buta. Demi Alloh Ta�ala, sedikitpun ia tidak mau memandangku.” (lihat Dzammul Hawa: 77)

Simaklah keajaiban berikutnya yang lebih luar biasa, yakni ucapan yang keluar dari Muhammad bin Sirin rohimahulloh, ketika ia berkata: “Saya tidak pernah menggauli seorang wanita pun dalam keadaan terjaga atau tidur selain Ummu Abdillah (isterinya). Sungguh dalam tidur aku bermimpi melihat wanita, namun aku tahu bahwa ia tidak halal untukku, maka aku palingkan penglihatanku darinya.” (lihat Asy Syakwa wa Itab: 103).

3. Sibukkan Diri Dengan Kebaikan Bila Tidak Ingin Melakukan Kebathilan

Jiwa tidak bosan berusaha, bergerak, mencari dan bekerja. Bila anda tidak menyembunyikannya dengan kebenaran, otomatis anda akan menyibukkannya dengan kebatilan. Bila anda tidak membawanya pada urusan-urusan yang luhur, pasti ia menyeret anda kedalam urusan-urusan yang hina. Bila jiwa terlewatkan gerbong kesungguhan, maka ia akan naik gerbong kemalasan. Jiwa harus memiliki tali kendali. Bila anda mengikatnya dengan tali tersebut, maka ia akan berperilaku dengan adab-adab syar’i. Namun bila anda melepaskannya, maka ia akan memperdaya anda seperti musang. Pilihlah kesibukan untuk jiwa anda. Tentukan keinginan pikiran anda, dan carilah aktivitas untuk tubuh anda.

Oleh sebab itu, Umar bin Khoththob rodhiyalloh’anhu sangat membenci waktu luang, karena ia memandangnya sebagai penggelincir pada kehinaan dan penjerumus kedalam jurang hawa nafsu. Ia berkata: “Aku benci melihat salah seorang dari kalian yang tidak mengerjakan apa-apa, tidak amalan dunia dan tidak pula amalan akhirat.” (lihat Qimatuz Zaman ‘Inda Muslimin: 68)

Sedang Ibnu Qoyyim rohimahulloh menjabarkan kandungan jiwa manusia secara mendalam, ia berkata: “Alloh Ta�ala telah menciptakan jiwa menyerupai gilingan yang berputar. Ia tidak bisa diam dan harus ada sesuatu yang digilingnya. Bila biji-bijian yang diletakkan, maka akan digilingnya. Jika debu atau kerikil yang diletakkan, maka tetap akan digilingnya. Pikiran-pikiran yang bergentayangan dalam jiwa seperti biji-bijian yang diletakkan dalam gilingan. Tidak pernah gilingan ini berhenti, bahkan harus ada sesuatu yang diletakkan di dalamnya. Diantara manusia ada yang gilingannya menggilas biji-bijian kemudian menghasilkan tepung yang berguna untuk dirinya dan orang lain. Tapi kebanyakan mereka menggiling pasir, kerikil, jerami dan semisalnya. Maka ketika tiba waktu membuat adonan dan roti, jelaslah apa yang sebenarnya yang ia giling". (lihat Al-Fawaid: 66).

Malaikat meletakkan biji-bijian yang bermanfaat, sementara syaithon melemparkan debu dan kerikil. Syaiton tidak mungkin melemparkannya kecuali bila mendapati gilingan dalam keadaan kosong, tidak ada biji-bijian di dalamnya, sedang operatornya telah menyia-nyiakan dan tidak mau mengurusinya. Karena itulah syaithon cepat-cepat melemparkan bawaannya kedalam gilingan.” (lihat Al-Fawa’id: 228-229).

4. Rasa Takut Memadamkan Hawa Nafsu.

Kobaran api syahwat dalam hati tidak bisa dipadamkan kecuali dengan ‘air takut’. Apabila permukaan air takut lebih tinggi, maka padamlah api syahwat dan hasilnya adalah menahan pandangan. Tapi bila lebih rendah, api syahwat semakin membara dan akibatnya mengumbar pandangan. Jadi orang berakal harus memperhatikan dan mengamati dari mana sumber datangnya kelemahan. Lalu segera membenahinya sebelum kebakaran menghanguskan seluruh bagian hati dan mengeluarkan bau gosong. Alloh Subhanahu wa Ta�ala berfirman:

“Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua syurga". (QS. Ar-Rahmaan [55]: 46).

Mujahid rohimahulloh berkata: “Ia adalah orang yang apabila ingin berbuat maksiat, maka ia ingat kedudukan Alloh atas dirinya. Lantas, urung melakukannya.” (lihat Dzammul Hawa: 192).

Seorang tabi’in Ubaid bin Umair rohimahulloh, berjuluk ahli cerita Makkah. Para shahabatnya biasa menghadiri majelis petuahnya. Mereka menangis dan terharu biru dengan nasehatnya. Ia adalah profil seseorang yang kekuatan malaikatnya mampu mengalahkan kekuatan syaithonnya, rasa takutnya kepada Alloh Subhanahu wa Ta�ala mampu menundukkan hawa nafsunya. Sehingga ia bisa menyiramkan rasa takut yang berubah taubat kepada orang-orang di sekelilingnya. Dengarkanlah kisahnya tentang seoranng wanita Makkah yang cantik jelita:

‘Ada seorang wanita cantik di Makkah, ia sudah bersuami. Suatu kali ia melihat bayangan wajahnya di cermin dan terkagum-kagum terhadap kecantikannya sendiri. Ia berkata kepada suaminya: ‘Mungkinkah ada seseorang yang melihat wajah ini dan tidak terpesona?.
Suaminya menjawab: ‘Ya, ada.’
Ia berkata; ‘Siapa?.’
‘Ubaid bin Umar’ jawab suaminya.
Ia bekata: ‘Ijinkan aku menggodanya.’
‘Aku ijinkan.’ jawab suaminya.

Selanjutnya wanita tersebut mendatangi Ubaid bin Umair sebagai orang yang ingin meminta fatwa. Ubaid berbicara dengannya di pinggir ruangan Masjidil Harom. Tiba-tiba wanita itu menyingkap penutup wajahnya bak separuh bulan. Maka Ubaid berkata kepadanya: ‘Takutlah kepada Alloh Subhanahu wa Ta�ala, wahai hamba Alloh".
Ia berkata: ‘Sungguh saya telah tergoda denganmu. Untuk itu, lihatlah keadaanku ini.’
Ubaid menjawab: ‘Aku akan menanyakan sesuatu kepadamu. Jika engkau menjawab dengan jujur, maka aku akan mempertimbangkan keadaanmu.’
Ia berkata: ‘Apa yang engkau tanyakan kepadaku, akan aku jawab dengan jujur.’
Ubaid berkata: ‘Beritahukan kepadaku, seandainya malaikat mendatangimu untuk mencabut nyawamu, sukakah engkau bila aku memenuhi keinginanmu?.’
Ia menjawab: ‘Tidak.’
Ubaid berkata: ‘Engkau telah berkata jujur. Ia bertanya lagi: ‘Seandainya engkau telah dimasukkan kubur kemudian di dudukkan untuk ditanyai, sukakah engkau bila aku memenuhi keinginanmu?.
Ia menjawab: ‘Tidak.’
Ubaid berkata: ‘Engkau telah berkata jujur. Ia bertanya lagi: ‘Seandainya manusia diberi catatan amal-amal mereka dan engkau tidak tahu akan menerima catatan dengan tangan kanan atau tangan kiri, sukakah engkau bila aku memenuhi keinginanmu ini?.
Ia menjawab: ‘Tidak.’
Ubaid berkata: ‘Engkau telah berkata jujur. Ia bertanya lagi: ‘Seandainya didatangkan timbangan-timbangan amal dan engkau tidak tahu akan mengambil beban amalmu dengan tangan kanan atau tangan kiri, sukakah engkau bila aku memenuhi keinginanmu?.
Ia menjawab: ‘Tidak.’
Ubaid berkata: ‘Engkau telah berkata jujur. Ia bertanya lagi: ‘Seandainya engkau berdiri di hadapan Alloh Subhanahu wa Ta�ala untuk diinterogasi, sukakah engkau bila aku memenuhi keinginanmu?.
Ia menjawab: ‘Tidak.’
Ubaid berkata: ‘Engkau telah berkata jujur. Ubaid melanjutkannya: ‘Bertqwalah kepada Alloh Subhanahu wa Ta�ala , wahai hamba wanita Alloh, sungguh Dia telah memberimu anugerah besar dan mempercantik dirimu.’

Kemudian wanita tersebut kembali kepada suaminya yang langsung menyambut dirinya dengan pertanyaan: ‘Hasil apa yang engkau peroleh?.’
Ia menjawab: ‘Engkau suka berbuat bathil dan kami suka berbuat bathil. Lantas wanita itu selalu menjaga sholatnya, puasa dan terus beribadah. Sampai-sampai suaminya berkata: ‘Kesalahan apa yang telah aku perbuat kepada Ubaid. Ia telah merasuk pribadi isteriku. Dulu disetiap malam ia laksana pengantin baru, namun ia telah mengubahnya menjadi ahli ibadah.’ (lihat Dzammul Hawa: 210-211)

Takut kepada Alloh adalah buah dari berbagai macam amalan ketaatan, seperti banyak membaca Al-Qur�an, merenungkan maknanya, menghayati berita-berita hari Kiamat, kengerian neraka dan keadaan penghuninya, berteman dengan orang-orang yang takut kepada Alloh Subhanahu wa Ta�ala dan mendengarkan berita-berita mereka, mengetahui kondisi oranng-orang yang terpedaya oleh iblis dan menjauhi, memandikan orang mati, menghadiri jenazah, menyaksikan saat-saat sakarotul maut, menganggap kecil amalan taat diri anda sendiri, dan mengetahui sifat-sifat Alloh dan hal-hal lain yang mampu melahirkan takut dan membangkitkan kegalauan.

5. Perbanyaklah Puasa!

Pangkal hawa nafsu adalah satu, sebagaimana halnya pangkal kesabaran juga satu. Barang siapa yang mampu bersabar mengendailkan nafsu makannya, pasti tekadnya menguat dan ia mampu bersabar menolak nafsu melihat yang harom. Karena inilah, ada wasiat untuk berpuasa agar seorang berlatih secara suka rela untuk tidak menuruti keinginan dan nafsu hewaninya. Kemudian terus mempertahankannya agar tidak berubah dan tidak goyah. Pun, tidak dikalahkan oleh tuntutan-tuntunan naluri dan keinginan. Selanjutnya menahan pandangan akan menjadi hasil alami ibadah puasa ini dan buahnya yang muncul secara otomatis. Untuk itu Rosululloh Shollallohu’alaihi wa Sallam berpesan kepada orang yang belum mampu menikah:
"فَعَلَيْهِ بِالصِّيَامِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ"
“..maka hendaklah ia berpuasa, karena itu menjadi perisainya.” (HR. Bukhori: 5065 Dan Muslim: 1400 dan lihat Lu�lu� wal Marjan: 884)

6. Kenali Tipu Daya Musuh Anda!

Dalam upaya menaklukkan hati, syaithon melancarkan serbuan, memberlakukan patroli-patroli, menggempur dan menyerang. Diantara siasatnya adalah melakukan penaklukkan secara bertahap hingga mencapai tujuannya, kemudian memasukkan anda kedalam barisan tentaranya. Seumpama jaraknya seribu mil, maka ia akan memulai dengan satu langkah. Langkah ini adalah pandangan.

Ibnu Jauzi rohimahulloh berkata: “Apabila engkau melihat seekor kuda membawa penunggangnya belok ke jalan yang sempit lantas memasukinya dengan separuh tubuhnya, dan lantaran sempitnya tempat tidak bisa turun, lantas ia diteriaki, segera berbaliklah mundur sebelum kuda itu berhasil masuk. Bila si penunggang kuda itu mau mendengarkan seruan dan menarik kuda mundur satu langkah ke belakang. Maka masalahnya menjadi mudah. Tapi bila ia menunda-nunda sampai kuda tersebut masuk kemudian baru menariknya, ia pasti kesulitan dan boleh jadi ia tidak mampu mengeluarkannya.”

Demikian halnya pandangan ketika turun ke lubuk hati. Apabila orang yang bertekad kuat cepat-cepat meredam dan memutus sumbernya dari awal, maka akan mudah untuk mengobatinya. Tapi bila pandangan di ulang-ulang, berarti ia mencari-cari keindahan pemandangan dan memindahkanya kedalam hati yang kosong, lalu mematrikannya dalam hati tersebut. Tiap kali pandangan dilakukan secara kesinambungan, maka ia seperti air yang disiramkan pada pohon. Ia selalu berangan-angan sampai berhasil merusak hati, memalingkannya dari memikirkan apa yang diperintahkan dan mengeluarkan pemiliknya menuju petaka-petaka, melahirkan pelanggaran larangan-larangan dan menghembaskannya kedalam kebinasahan. (lihat Dzammul Hawa: 82).

7. Menikahlah!

Nabi Shollallohu‘alaihi wa Sallam bersabda:
"يَا مَعْشَرَ الشَّبَّابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ" مُتّفقٌ عَلَيْهِ.

“Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu menikah hendaklah menikah. Karena itu lebih bisa menahan pandangan dan menjaga kemaluan.” (Muttafaqun �alaihih,Bukhori: 5065 dan Muslim: 1400 )

Bahkan Nabi Shollallohu‘alaihi wa Sallam memberi obat ampuh yang bisa menyembuhkan pengaruh pandangan harom. Diriwayatkan dari Jabir rodhiyallohu‘anhu bahwa Rosululloh Shollallohu‘alaihi wa Sallam melihat seorang wanita. Lantas beliau menghampiri Zainab yang sedang membersihkan kulit yang baru disamak, lalu beliau menyalurkan hasrat beliau. Kemudian keluar menemui para shahabat dan bersabda:

"إِنَّ المَرْأَةَ تُقْبِلُ فِيْ صُوْرَةِ الشَّيْطَانِ وَتُدْبِرُ فِيْ صُوْرَةِ الشَّيْطَانِ، فَإِذَا أَبْصَرَ أَحَدُكُمْ امْرَأَةُ فَلْيَأْتِيْ أَهْلَهُ فَإِنَّ ذَلِكَ يَرُدُّ مَا فِيْ نَفْسِهِ"

“Sesungguhnya wanita itu datang dalam bentuk syaithon dan pergi dalam bentuk syaithon. Maka, apabila salah seorang kalian melihat wanita, hendaknya ia segera mendatangi isterinya karena hal itu bisa meredam gejolak yang ada di dalam dirinya.” (HR. Ahmad dan lihat As-Silsilah Ash-Shohihah: 235)

Imam Nawawi rohimahulloh berkata: “Beliau melakukan hal ini, tiada lain untuk memberi penjelasan kepada mereka dan menunjukkan langkah yang harus mereka ambil. Beliau mengajari mereka melalui perbuatan dan sabda.” (lihat Syarah Nawawi �ala Shohih Muslim: 5/311).

Mungkin satu pandangan sanggup menggejolakkan nafsu seorang laki-laki. Dan nafsu ini tidak akan tenang kecuali dengan melaksanakan pesan Rosululloh Shollallohu‘alaihi wa Sallam, yakni menggauli isteri. Karenanya, ada ancaman keras bagi isteri yang enggan melayani hasrat suami tanpa alasan. Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

"إِذَا بَاتَتِ المَرْأَةُ مُهَاجِرَةً فِرَاشَ زَوْجِهَا لَعَنَتْهَا المَلَائِكَةُ حَتَّى تَرْجِعَ"

“Apabila seorang wanita tidur menjauhi ranjang suaminya, para Malaikat melaknat dirinya sampai ia kembali.” (lihat Lu’lu� wal Marjan: 912)

8. Alloh Selalu Melihat Anda

Alloh Subhanahu wa Ta�ala berfirman:

“Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.” (QS. Al Mu�min [40]: 19)

Ibnu Abbas rodhiyallohu‘anhu berkata: “Ada seorang laki-laki berada ditengah-tengah orang banyak, lantas lewatlah seorang wanita. Laki-laki itu memperhatikan dirinya, ia melihat si wanita. Dan, jika ia takut mereka memergokinya, maka ia menahan pandangan. Sungguh Alloh telah mengetahui dalam hati kecilnya bahwa ia sangat ingin melihat aurot wanita tersebut.” (lihat Dzammul Hawa: 81)

Orang malang ini menipu dirinya sendiri, tapi mengira ia mampu menipu Robbnya. Wahai saudaraku, sikap anda yang merasa selalu diawasi oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala terjelma dalam perasaan bahwa pandangan Alloh Subhanahu wa Ta’ala lebih dekat kepada anda daripada pandangan anda dari hal-hal yang harom. Sebab, Dia lebih dekat kepada dirimu dibanding urat nadi. Para Malaikat-Nya berdiri mengawasi anda di sisi kanan dan kiri. Amal-amal perbuatan dicatat, pandangan-pandangan diintai dan besitan-besitan hati ditulis, bahkan diukir. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Dan tidaklah Robbmu lupa.” (QS. Maryam [19]: 64)

Dahulu, putri Umar bin Abdul Aziz rohimahulloh memiliki satu butir permata yang dipergunakan sebagai anting telinga. Ia tidak memiliki satu butir lainnya yang bisa dipasang di telinga yang satu. Lantas ia mengirim utusan kepada Umar untuk memintanya memberikan satu butir permata. Maka, Umar mengirimnya dua bongkah bara api, dan berkata kepadanya: ‘Bila engkau sanggup mengenakan kedua bara api ini di telingamu, aku akan memberimu permata yang lain.’ (lihat Siroh Umar bin Abdul Aziz: 156)

Dan kami berkata kepada anda wahai orang yang gemar mengumbar pandangan: ‘Bila anda sanggup mengganti dua mata anda dengan dua mata bola api, maka biarkanlah kedua mata itu menikamti leher-leher nan cantik.’


http://ikhwan-nul-islam.cybermq.com/post/detail/9055/kiat-kiat-praktis-menahan-pandangan
Read More..
 

Lorem ipsum

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Donec libero. Suspendisse bibendum. Cras id urna. Morbi tincidunt, orci ac convallis aliquam, lectus turpis varius lorem, eu posuere nunc justo tempus leo. Donec mattis, purus nec placerat bibendum, dui pede condimentum odio, ac blandit ante orci ut diam.