image

Perseteruan Dua Cinta

Anis Matta - Perseteruan Dua CintaWahai orang-orang beriman, sesungguhnya diantara istri-istri dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagi kamu..”

Bisakah anda membayangkan bahwa suatu saat, istri dan anak-anak yang anda cintai, justru jadi musuh bagi anda? Mungkin. Mungkin sekali itu terjadi. Pada siapa saja. Karena cintanya pada istri dan anak-anaknya tidak “turun” dari cinta misi, dari cintanya kepada Allah. Atau sebaliknya. Jika cinta pada istri dan anak-anaknya tidak berhasil membawa mereka kedalam lingkaran cinta misi.

Itulah tragedi dua orang Nabi dan seorang perempuan shalihah. Dengan segenap cinta dan harapan jiwanya, Nabi Nuh masih terus berusaha mempertahankan istri dan anak-anaknya ketika tsunami itu datang. Tapi tidak!

Cinta misinya tidak tersambung dengan nasibnya. Begitu juga Nabi Luth. Istrinya ada dalam daftar umatnya yang dibinasakan Allah. Dan perempuan shalihah itu bernama Asia, istri seorang thaghut terbesar sepanjang sejarah, Fir'aun. Ketika cinta harus memilih, ia memilih Tuhannya. Ia memilih cinta misinya. Meskipun ia harus mengorbankan nyawanya sendiri.

Itu saat yang getir. Ketika kita harus memilih dua cinta yang bertarung dalam jiwa. Dan Allah mengabadikan cerita pertarungan dua cinta itu dalam jiwa Nuh, Luth dan Asia. Agar kita mengerti bahwa permisalan itu adalah takdir kehidupan, bahwa siapa pun mungkin mengalami itu: saat-saat dimana kita harus memutuskan pilihan dari dua cinta yang tidak dapat dipertemukan.

Tidak harus selalu begitu, memang. Sebab juga ada cerita lain. Cerita tentang dua cinta yang bertemu. Seperti cinta Muhammad dan Khadijah, atau Yusuf dan Zulaikha, atau Adam dan Hawa. Cerita tentang Adam yang memakan buah khuldi yang terlarang adalah manifestasi cinta jiwa yang tidak terangkai dalam cinta misi. Tapi mereka segera bertaubat dan meluruskan arah cinta mereka. Tapi ketegaran Yusuf menghadapi godaan istri sang raja adalah pesona yang mengantarkan hidayah ke dalam jiwa Zulaikha. Adapun Muhammad dan Khadijah: itu kisah cinta yang sejak awal tumbuh dan berkembang dalam bingkai cinta misi.

Secara manusiawi perseteruan dua cinta ini lahir dari kecenderungan jiwa yang tidak terbingkai dengan nilai-nilai cinta misi. Itu cobaan hati yang paling banyak menimpa orang shalih. Ketika “bentuk” mengalahkan “makna”, ketika “rupa” mendahului “jiwa”, itu pertanda awal dari datangnya cobaan. Mereka yang memenangkan bentuk dan rupa, biasanya harus membayar harga kenikmatan duniawi dengan ongkos makna dan jiwa yang seringkali terlalu mahal. Itu sebabnya Rasulullah saw menganjurkan kita mendahulukan agama dalam memilih pasangan hidup.

Itu kalau harus memilih. Tapi masalah ini tentu selesai dengan sendirinya kalau bentuk terpadu dengan makna, rupa bertemu jiwa. Dan itu, kata Ibnu Qayyim, adalah puncak karunia dan kenikmatan dunia dan akhirat: menikahi perempuan shalihah, cerdas dan cantik sekaligus. Seperti Muhammad kepada Aisyah. Tidak mungkin memang. Tetapi tetap saja mungkin.

Anis Matta
Read More..

Karena Jiwa Punya Hajat

Anis Matta - Karena Jiwa Punya HajatKeagungan. Keluruhan. Ketinggian. Hanya itu yang ada pada misi cinta. Romantika juga ada. Tapi tetap dalam bingkai itu. Kita sebut romantika perjuangan. Seperti ketika kita memandang indahnya pelangi yang menggores langit. Mengagumkan. Mempesona. Tapi ada jarak. Itu keindahan yang dilukis oleh nilai: kekuatan yang memvisualisasi sisi malaikat dari dalam diri kita diatas kanvas kenyataan, lalu melegenda dalam riwayat sejarah.

Tapi manusia tercipta dari tanah. Dan tanah punya tabiatnya sendiri. Juga punya rasa, punya mau, punya hajatnya sendiri. Juga punya permintaannya sendiri dari asal usul ini, kehidupan manusia tersublimasi menjadi riwayat yang rumit dan kompleks. Begitu juga cinta yang lahir dari sini. Kalau dalam cinta misi perasaan bergerak mengikiti pikiran dan nilai, dalam cinta perasaan dan jiwa bergerak memenuhi kebutuhannya sendiri. Kebutuhan akan kegenapan. Kebutuhan akan kesatuan.

Sendiri. Sepi. Itu musuh jiwa manusia. Sebab alam ini termasuk kita tercipta berpasangan. Begitu juga: kita semua punya pasangan hidup dalam perkawinan dan pasangan sosial dalam bermasyarakat. Perjalanan menemukan pasangan jiwa adalah kebutuhan eksistensial. Sampai kita menembus ruang dan waktu yang panjang: sebab keterpisahan ini, kata Rumi, hanya tipu daya waktu.

Sebab ia lahir dari kebutuhan akan kegenapan dan kesatuan, maka cinta jiwa masyarakatnya adalah penerimaan. Tidak ada pertemuan tanpa penerimaan. Syarat ini tidak selalu ada dalam cinta misi. Tapi syarat ini pula yang membuat cinta jiwa jadi rumit. Sebab asa penerimaan jiwa disini juga beragam. Ada faktor keseimbangan. Seperti dua sungai besar yang bertemu dalam samudra yang sama lalu menciptakan gelombang cinta yang dahsyat. Itu cinta yang lahir dari kesamaan.

Atau lidah api yang menyala-nyala namun dipadamkan oleh air yang sejuk. Cinta yang ini lahir dari kebutuhan dan kesimbangan. Atau seperti air bening yang mengaliri lahan tanah yang subur lalu melahirkan taman kehidupan yang indah. Ini kegenapan jiwa yang melahirkan cinta.

Kerumitannya terletak pada pencarian “meeting point” dari dua jiwa. Itu ada pada kesamaan atau kegenapan atau keseimbangan antara dua karakter. Hampir tidak ada pertemuan jiwa diluar ketiga meeting point itu. Bayangkanlah bila terjadi sebaliknya. Api bertemu angin menciptakan kebakaran yang ganas. Air bertemu angin melahirkan gelombang tsunami.

Baik dalam perkawinan atau perkawanan kita menemukan kerumitan itu. Itu masalah kecocokan. Sebab harus ada dua tangan untuk bisa bertepuk. Dua jiwa hanya mungkin bertemu dan menyatu kalau hajat mereka sama. Hikmah itulah yang disampaikan Rasulullah saw, “jiwa-jiwa itu ibarat prajurit-prajurit yang dibaris-bariskan. Yang paling mengenal diantara mereka pasti akan saling melembut dan menyatu. Yang tidak saling mengenal di antara mereka pasti akan saling berbeda dan berpisah.

Anis Matta
Read More..

Indahnya Jiwa Cinta

Anis Matta - Indahnya Jiwa CintaTidak ada yang lebih indah dalam sejarah perasaan manusia seperti saat ketika ia sedang jatuh cinta. Bukan karena dunia di sekeliling kita berubah pada kenyataannya. Tapi saat-saat jatuh cintalah yang seketika mengubah persepsi kita tentang dunia disekeliling kita. Tidak selalu karena wanita yang kita cintai itu memang cantik pada kenyataannya. Tapi cinta kita padanya yang membuatnya cantik dimata kita.

Saat jatuh cinta adalah saat dimana persepsi kita mengalami shifting pada semua realitas yang ada disekeliling kita. Kadang kita mungkin mengelabuhi diri kita sendiri. Tapi itu puncak subjektivitas yang justru mengubah kita menjadi lebih positif dalam cara kita memandang segala sesuatunya. Dan disitulah letak keindahannya. Seperti indahnya subjektivitas pada dunia anak-anak. Bagi mereka realitas sesungguhnya adalah realitas yang mereka persepsikan. Bukan realitas yang ada diluar sana seperti yang dilihat oleh orang dewasa. Bangku bisa dipersepsi sebagai rumah. Tongkat bisa dipersepsi sebagai senjata. Dunia menjadi sangat ringan dan fleksibel di mata mereka. Karena itu dunia anak selalu indah, selalu penuh kenangan. Begitu juga saat kita jatuh cinta. Shifting pada persepsi kita membuat dunia serasa jadi realitas lain yang begitu indah. Dan itu membawa kenyamanan pada rongga dada kita. Karena perasaan kita seketika berbunga-bunga. Karena, seperti kata Ibnu Hazem, ruh kita seketika menjadi ringan dan lembut, badan kita seketika jadi wangi , senyum kita seketika mengembang lebar, benci dan dendam dan angkara murka seketika lenyap dari ruang hati kita, dan tiba-tiba saja yang bukan penyair jadi penyair, yang tidak bisa bernyanyi jadi penyanyi.

Suatu saat seorang raja bingung menyaksikan putra mahkotanya begitu pemalas, apatis, tidak bergairah, tidak berminat pada ilmu pengetahuan, tidak bisa berpidato. Ia gundah, karena putra mahkotanya sama sekali tidak layak jadi raja. Maka sang raja memerintahkan seorang dayang cantik istana untuk menggoda sang putra mahkota. Bilang padanya, pesan sang raja ada pada dayang cantik, aku sangat mencintaimu dan aku bersedia jadi permaisurinya. Nanti kalau hatinya sudah berbungan-bunga, bilang lagi padanya lanjut sang raja tapi ada syaratnya, kamu harus lebih bersemangat, lebih rajin dan mau menyiapkan diri menjadi raja, dan aku percaya kamu bisa. Firasat sang raja ternyata benar. Putra mahkotanya seketika bangkit berubah: ia mengubah penampilannya menjadi keren dan wangi, ia mempelajari berbagai macam ilmu, ia juga tampil berpidato, ia juga menulis. Saat jatuh cinta telah mengubah persepsinya tentang dirinya dan dunianya, seketika membangkitkan semangat hidupnya, dan meledakkan semua potensinya.

Shifting pada persepsi mengembalikan sisi kekanakan kita saat kita jatuh cinta. Itu keindahan yang mempertemukan kita dengan sisi dalam kemanusiaan kita; subjektif, melankolik, kekanakan, tapi positif. Dan indah.

Anis Matta
Read More..

Akhir Sejarah Cinta Kita

Anis Matta - Akhir Sejarah Cinta KitaSuatu saat dalam sejarah cinta kita
kita tidur saling memunggungi
tapi jiwa berpeluk-peluk
senyum mendekap senyum

suatu saat alam sejarah cinta kita
raga tak lagi saling membutuhkan
hanya jiwa kita sudah melekat dan menyatukan
rindu mengelus rindu

suatu saat dalam sejarah cinta kita
kita hanya mengisi waktu dengan cerita
mengenang dan hanya itu
yang kita punya

suatu saat dalam sejarah cinta kita
kita mengenang masa depan kebersamaan
kemana cinta akan berakhir
disaat tak ada akhir.

Anis Matta
Read More..

Penyair Dan Lembah Itu

Anis Matta - Penyair Dan Lembah ItuPasangan yang sedang berasyik masuk itu sejak awal menyita perhatian hampir semua penumpang. Mengelilingi selat Bosphorus yang membelah sayap Asia dan Eropa, kota Istambul menjelang senja, memang sebuah sensasi romansa. Mereka terus berpelukan. Dan berciuman. Yang ada hanya kata indah. Senyum. Dan ribuah kebahagian. Dunia jadi milik mereka berdua. Dan semua penumpang, termasuk rombongan, adalah penonton setia yang semakin mendorong ekshibisi mereka. Ibarat cawan-cawan anggur yang terus memabukkan orang-orang kasmaran.

Tapi kita semua tiba-tiba terhentak. Begitu wisata bahari sore itu selesai, pasangan itu turun dari boat sambil bertengkar hebat. Tidak ada yang mengerti di antara kami; apa asal usul kemesraannya, atau apa pula sebab musabab pertengkarannya.

Tapi yang ada hanya sebuah kaedah sederhana yang bisa disimpulkan: tidak semua kata cinta lahir dari cinta, sebab tidak semua yang terkata selalu datang dari jiwa. Boleh jadi atau sekedar lintasan pikiran yang tak berakar dalam hati. Atau respon sesaat terhadap suasana yang mengharu biru. Kata yang tak berakar di hati selalu mengandung virus: berlebihan, basa basi, tidak realistis, tidak punya daya gugah, atau punya daya gugah tapi mengandung kebohongan.

Ini dia penyakit penyair yang disebut Qur'an; “Dan para penyair itu, diikuti orang-orang pendusta... tidakkah kamu melihat bagaimana mereka mengembara tanpa arah di setiap lembah... dan bahwa mereka mengatakan apa yang tidak mereka kerjakan.” (QS. Al-Syuaro: 224-226).

Yahimun: mengembara tanpa arah. Itu ungkapan ajaib dan sangat akurat. Lalu diperkuat dengan pernyataan bahwa mereka mengatakan apa yang tidak mereka lakukan. Itu membuatnya lebih dalam lagi. Karena akhirnya, ini adalah cerita tentang watak yang terbelah, antara kata dan laku, tentang kata tanpa makna dan arah, kata yang hanya sekedar kata.

Penyair dan lembah itu, metafora tentang ketidakjujuran, tentang jiwa yang sakit, tentang karakter yang lemah. Cinta memang harus berkembang jadi kata. Sebab itu membuatnya nyata. Dan meyakinkan. Tapi kata itu harus benar-benar merupakan anak-anak manis yang lahir dari rahim cinta. Hanya itu yang membuatnya kuat dan berkarakter. Hanya itu yang membuat kata menyatu dengan laku. Serta bebas dari keterbelahan jiwa. Jika tidak cinta akan terkena virus yang menimpa para penyair.

Seringkali kata-katanya terlalu sederhana. Tapi kadar jiwa dan makna yang dikandungnya mungkin lebih dahsyat dari puisi-puisi yang pernah memenangkan nobel. Seperti ketika Rasulullah SAW menyanjung Khadijah: “Adakah perempuan yang bisa menggantikan Khadijah?” Ketika akhiranya rasa penasaran mendorong Aisyah menanyakan itu, Rasulullah SAW menjawab: “Dia beriman ketika semua orang kafir, dia mengorbankan harta ketika ketika semua orang menahannya, ia memberiku anak-anak.”

Pengakuan jujur yang abadi. Cinta yang terkembang jadi kata tapi tak sempat disampaikan kepada sang kekasih. Sederhana. Apa adanya. Tapi dalam. Karena ia memang lahir dari rahim cinta sejati.

Anis Matta
Read More..

Biar Dramatisasi Jadi Manis

Anis Matta - Biar Dramatisasi Jadi ManisPuisi yang terlalu seadanya memang tidak memberi rasa apa-apa. Puisi perlu greget. Perlu hentakan. Perlu dramatisasi. Begitu juga ungkapan cinta. Cinta hanya bekerja kalau ia membara. Dan beranya meletup-letup lewat kata.

Qur'an tidak mengingkari itu. Virus penyair yang disebut Qur'an sebenarnya terletak pada kadar kebohongan yang sering menyertai dramatisasi itu. Begitu juga ungkapan rasa cinta yang terlalu berlebihan sering mengandung kebohongan. Bisa karena tidak berakar dihati. Bisa juga kerena memang tidak mengandung kebenaran. Mungkin juga berakar dihati, tapi tidak mengandung kebenaran. Atau mengandung kebenaran, tapi tidak berakar dihati. Yang benar tapi tidak ada dihati adalah kebohongan. Yang tidak benar tapi ada dihati adalah kesalahan. Yang terakhir ini misalnya lagu berikut:

semua yang ada padamu
oh membuat diriku tidak berdaya
hanyalah untukmu
hanyalah bagimu
seluruh hidup dan cintaku

ungkapan itu mungkin memang berakar dihati. Tapi mengandung makna pengabdian dan penyerahan diri yang total kepada sang kekasih. Dan itu tidak boleh terjadi dalam cinta jiwa atau cinta sesama manusia. Itu hanya untuk Allah SWT.

Di sinilah letak tantangan bagi para pecinta; bagaimana menemukan ungkapan yang benar dan tepat bagi bara cinta yang meletup-letup dalam jiwa? Yang pertama tentu saja memastikan persoalan dasarnya; apakah memang ada bara dalam jiwa? Ini jelas sangat mendasar untuk memastikan bahwa “tidak ada dusta diantara kita”.

Yang kedua adalah menemukan kata yang benar dan tepat. Benar pada maknanya, tapi tepat melukiskan suasana jiwa. Ini membutuhkan penghayatan jiwa yang dalam, keakraban dengan diri sendiri yang kental, cita rasa keindahan dan kekayaan bahasa.

Melukis bara cinta dalam jiwa memang membutuhkan kata yang kuat agar baranya nyata dalam pandangan sang kekasih. Tapi kita harus menakar dengann objektif, seberapa panas bara yang hendak kita lukis. Ini untuk memastikan bahwa kata tidak melampaui panasnya bara, atau kata tidak melukis semua panas bara secara utuh.

Akhirnya memang, kejujuran dan kebenaran adalah kata kunci di balik semua dramatisasi cinta yang manis. Hanya itu. Jika tidak, pasti akan ada kesalahan dalam bahasa cinta kita. Tidak mudah memang, tapi begitulah cinta; selalu punya syaratnya sendiri.

Anis Matta
Read More..

Bias Penghambaan

Anis Matta - Bias PenghambaanDiantara kejujuran rasa dan kebenaran kata bias ada yang perlu kita renungi. Ini semacam bibir tipis yang membedakan dua jenis cinta: cinta misi dan cinta jiwa. Sebegitu tipisnya sampai hanya sedikit orang yang bisa melihatnya.

Bias itu ada disini: bahwa karena cinta adalah sumber energi maka ia selalu berujung tindakan, dan setiap tindakan selalu punya motif. Bias itu adalah motif: antara motif memberi dan motif mengabdi. Secara keseluruhan ubudiyah harus menjadi motif pada cinta misi dan cinta jiwa. Sementara memberi adalah penampakannya. Tapi penampakan dalam bentuk memberi lebih merata dalam varian-varian cinta jiwa ketimbah cinta misi. Pada sebagian varian cinta misi penampakannya bahkan juga berbentuk penghambatan.

Sempai disini biasnya mungkin belum terlalu jelas. Sebab bias terjadi ketika muncul penyimpangan dimana motif ubudiyah kepada Allah berubah menjadi ubudiyah kepada objek-objek cinta jiwa dan sebagian objek cinta misi. Yang terakhir ini misalnya terlihat pada lagu-lagu cinta tanah air. Misalnya, lagu Padamu Negeri.

Contoh itu pada cinta jiwa lebih banyak lagi. Misalnya pada lagu-lagu pemujaan pada sang kekasih. Atau pada ratapan atas kematian atau kepergian sang kekasih. “Tiada guna aku hidup begini, tanpa dirimu kekasih yang aku sayangi,” kata Tommy J Pisa dulu.

Bias begini biasanya terjadi dipuncak gelora cinta yang mulai tidak terkendali. Semacam orgasme emosional yang meledak seketika dimana realitas untuk sesaat lenyap. Tapi begitu kita sadar dan kembali menatap realitas, seketika kita sadar kalau kita baru saja mabuk.

Ada cinta yang bisa membunuh, kata pepatah arab. Tapi disini ada cinta yang bikin kita jadi syirik. Ini tidak selalu karena kita kehilangan kendali akal sehat. Tapi terutama karena kita kehilangan kendali prinsip dan nilai.

Di saat itu hanya ada kenikmatan imajiner. Tidak ada pemaknaan spritual. Selalu ada pemisahan yang miris antara imaji dan realita; setiap satu teguk air disini hanya menimbulkan satu dahaga baru. Inilah sejatinya derita para pecinta yang menelan bias ini. Tegukan khamar pertama adalah kenikmatan. Tapi tegukan kedua dan ketiga adalah obat, kata penyair Arab. Tidak ada lagi kenikmatan. Yang ada hanya obat. Ya, hanya obat. Karena tegukan-tegukan itu telah berubah menjadi ketergantungan. Lalu penghambaan.

Maka menarilah mereka diatas luka. Bukan karena tariannya indah. Tapi itu jeritan dari luka yang membuat mereka melompat dan menari. Lalu melompat dan menari lagi. Menyanyikan lagu tentang jiwa yang lelah dan harus mengakhiri riwayat cintanya dengan kesia-siaan. Miris. Menyakitkan. Dan selalu begitu; mulanya hanya bias kecil, tetapi diujung sana ada luka besar yang sudah menganga lebar dalam kehidupan para pecinta.

Miris. Semiris ratapann Ebiet G Ade; “Adakah angin gunung mendengar keluhanku.”.

Anis Matta
Read More..
 

Lorem ipsum

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Donec libero. Suspendisse bibendum. Cras id urna. Morbi tincidunt, orci ac convallis aliquam, lectus turpis varius lorem, eu posuere nunc justo tempus leo. Donec mattis, purus nec placerat bibendum, dui pede condimentum odio, ac blandit ante orci ut diam.